Kompas Tech – Di tengah tren AI yang makin dekat dengan kehidupan sehari-hari, ada satu temuan menarik dari OpenAI. Rata-rata remaja menggunakan ChatGPT kurang dari 15 menit per hari. Sekilas, durasi ini terbilang singkat. Namun, urusan AI bukan cuma soal berapa lama aplikasi dibuka, melainkan juga apa yang terjadi selama percakapan berlangsung.
Kebiasaan Remaja Memakai ChatGPT Jadi Sorotan
OpenAI melaporkan bahwa kurang dari 2% pengguna remaja berinteraksi dengan ChatGPT selama lebih dari tiga jam berturut-turut. Perusahaan tersebut juga mencatat respons pengguna terhadap pengingat istirahat. Dalam hampir setengah percakapan yang memunculkan pengingat itu, remaja berhenti sejenak atau mengakhiri obrolan dalam waktu lima menit.
Angka tersebut memberi gambaran tentang pola penggunaan chatbot AI. Buat sebagian pelajar, ChatGPT bisa menjadi teman untuk mencari penjelasan materi, merangkum informasi, atau menyusun ide tugas. Fungsinya mirip asisten digital yang bisa diakses kapan saja, tanpa harus membuka banyak aplikasi sekaligus.
Namun, durasi pemakaian yang singkat belum tentu menggambarkan seluruh pengalaman pengguna. Satu percakapan yang berlangsung beberapa menit pun bisa menjadi persoalan jika respons AI menyentuh topik sensitif.
Baca juga: OpenAI Mulai Mengurung AI-nya Sendiri, Internet Bebas Kini Jadi Risiko?
ChatGPT for Teens Hadir dengan Perlindungan Tambahan
OpenAI mulai meluncurkan ChatGPT for Teens pada Agustus 2026. Pengalaman khusus ini dirancang untuk pengguna di bawah 18 tahun, dengan perlindungan sesuai usia, pembatasan percakapan sensitif, serta opsi pengawasan orang tua.
Pengguna yang mendapat akses ke fitur remaja juga dilaporkan lebih banyak menggunakan ChatGPT untuk keperluan pendidikan. Fitur seperti Study Mode dirancang untuk membantu pengguna memahami materi, bukan sekadar menerima jawaban jadi.
Dari sisi pengalaman pengguna, pendekatan ini cukup relevan. AI memang praktis untuk belajar, tetapi akan lebih bermanfaat jika mendorong pengguna memahami prosesnya. Meski begitu, fitur khusus saja belum cukup untuk memastikan semua interaksi berlangsung aman.
Pengujian Keamanan AI Masih Menyisakan Pertanyaan
Common Sense Media, organisasi yang meneliti dampak teknologi terhadap anak dan keluarga, mengungkapkan sejumlah masalah dalam pengujian akun khusus remaja. Temuannya mencakup pemberitahuan kepada orang tua yang terlambat atau tidak muncul dalam beberapa skenario terkait bunuh diri, tindakan menyakiti diri sendiri, dan gangguan makan.
Organisasi tersebut juga menyoroti respons chatbot yang dinilai belum konsisten dalam mengarahkan pengguna ke bantuan yang tepat. OpenAI membantah bahwa pengujian itu menggambarkan sistem pengamanannya secara akurat. Perusahaan menyebut proses menghubungkan akun remaja dengan akun orang tua serta mengaktifkan peringatan keselamatan dapat membutuhkan waktu.
Perbedaan penilaian ini menunjukkan bahwa mengukur keamanan AI tidak sesederhana melihat statistik penggunaan. Sistem juga perlu dinilai dari kemampuannya menangani percakapan berisiko dan memberikan arahan yang sesuai.
Baca juga: OpenAI Bongkar Sisi Gelap PHP, Website yang Terlihat Aman Bisa Punya Masalah Besar
Bukan Cuma Durasi, Kualitas Respons Juga Penting
ChatGPT punya potensi sebagai alat bantu belajar, terutama bagi pelajar yang membutuhkan penjelasan cepat dan fleksibel. Namun, seperti aplikasi digital lainnya, manfaatnya tetap bergantung pada cara penggunaan dan perlindungan yang tersedia.
Buat orang tua, guru, maupun pengguna muda, pertanyaan pentingnya bukan hanya berapa menit ChatGPT digunakan setiap hari. Yang tak kalah penting adalah apakah jawabannya bisa diandalkan, bagaimana AI merespons situasi sensitif, dan kapan pengguna perlu mencari bantuan dari manusia.
Pada akhirnya, angka 15 menit sehari memang menarik perhatian. Tetapi untuk menilai apakah ChatGPT aman bagi remaja, kita perlu melihat lebih jauh daripada sekadar durasi layar.