Kompas Tech – Kalau mendengar bisnis kecerdasan buatan atau AI, kebanyakan orang mungkin langsung teringat ChatGPT, Gemini, atau chatbot yang terintegrasi di smartphone. Padahal, ada peluang lain yang tidak kalah menarik: membuat AI khusus untuk membantu pekerjaan profesional. Daniel Nadler menjadi salah satu pengusaha yang membuktikan potensi tersebut lewat OpenEvidence, platform AI untuk dunia medis.
Kekayaan Nadler diperkirakan mencapai US$7,6 miliar atau sekitar Rp137,5 triliun. Angka fantastis itu berkaitan dengan kepemilikan sahamnya di OpenEvidence, perusahaan yang mengembangkan teknologi untuk membantu dokter mengakses informasi medis dan penelitian ilmiah.
OpenEvidence, AI yang Punya Fokus Lebih Spesifik
Bayangkan mencari informasi kesehatan lewat chatbot biasa, lalu membandingkannya dengan platform yang dirancang khusus untuk menelusuri referensi medis. Di sinilah OpenEvidence mengambil peran.
Platform ini membantu dokter menemukan informasi dari literatur ilmiah tanpa harus menelusuri begitu banyak publikasi secara manual. Konsepnya mirip asisten digital, tetapi fokusnya bukan menjawab segala macam pertanyaan pengguna. OpenEvidence dikembangkan untuk kebutuhan tenaga medis yang memerlukan informasi berbasis penelitian.
Dalam dunia teknologi, pendekatan seperti ini dikenal sebagai AI spesialis. Jika chatbot umum menjadi perangkat serbaguna, AI spesialis lebih menyerupai gadget dengan fungsi tertentu yang dirancang untuk menyelesaikan pekerjaan secara lebih terarah.
OpenEvidence dilaporkan memiliki valuasi US$12 miliar pada 2026. Perusahaan ini juga telah menjangkau ratusan ribu dokter. Bagi Nadler, besarnya kepemilikan saham di perusahaan tersebut menjadi faktor penting di balik nilai kekayaannya.
Baca juga: Remaja Cuma 15 Menit di ChatGPT, Tapi Masalah AI Tak Sesingkat Itu
Sebelum Masuk Dunia Medis, Nadler Garap AI untuk Keuangan
Perjalanan Nadler tidak langsung dimulai dari sektor kesehatan. Pada 2013, ia mendirikan Kensho Technologies, perusahaan yang mengembangkan AI untuk membantu analisis data keuangan.
Teknologi Kensho dirancang untuk mengolah informasi ekonomi dan pasar yang kompleks. Perusahaan tersebut kemudian diakuisisi S&P Global pada 2018, sebuah pencapaian yang memperkuat rekam jejak Nadler di industri teknologi.
Latar belakang pendidikannya juga menarik. Nadler pernah menempuh studi di University of Toronto dan meraih gelar doktor ekonomi politik dari Harvard University. Pengalaman akademik dan bisnis ini menjadi bagian dari perjalanannya sebelum mengembangkan AI untuk kebutuhan dokter.
Kenapa AI Medis Punya Potensi Besar?
Masalah yang ingin dijawab OpenEvidence sebenarnya cukup sederhana: perkembangan ilmu kedokteran sangat cepat, sedangkan waktu dokter untuk membaca seluruh penelitian terbaru jelas terbatas.
Platform ini didirikan pada 2022 bersama Zachary Ziegler. OpenEvidence kemudian menjalin kemitraan dengan sejumlah penerbit dan lembaga medis, termasuk The New England Journal of Medicine, The Journal of the American Medical Association (JAMA), dan National Comprehensive Cancer Network (NCCN).
Meski menawarkan akses informasi yang lebih praktis, AI medis tetap punya batasan. Hasil pencarian perlu ditelaah, sementara diagnosis dan keputusan pengobatan tetap membutuhkan penilaian profesional tenaga kesehatan.
Baca juga: OpenAI Mulai Mengurung AI-nya Sendiri, Internet Bebas Kini Jadi Risiko?
Bukan Cuma Jago Teknologi
Ada sisi lain dari Nadler yang tidak berkaitan langsung dengan bisnis AI. Ia juga menaruh minat pada sastra dan puisi, bahkan menerbitkan buku Lacunae: 100 Imagined Ancient Love Poems pada 2016.
Kisah Nadler memperlihatkan bahwa peluang di industri AI tidak selalu datang dari membuat chatbot yang dipakai semua orang. Kadang, bisnis justru tumbuh ketika teknologi diarahkan untuk menyelesaikan satu masalah yang spesifik.
Bagi industri teknologi, termasuk pengembang aplikasi dan perangkat pintar, pendekatan ini menjadi pelajaran menarik: fitur canggih saja tidak cukup. Teknologi perlu punya fungsi yang jelas, menjawab kebutuhan nyata, dan memberikan manfaat yang bisa dirasakan penggunanya.